<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836</id><updated>2012-02-16T15:40:28.194-08:00</updated><title type='text'>ISLAM AGAMAKU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-29862881163689748</id><published>2010-08-28T16:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T16:49:26.662-07:00</updated><title type='text'>Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar Dibandingkan Dosa Berzina</title><content type='html'>&lt;p&gt;Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita  semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan  shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat  bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh  sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang  dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang  satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat  sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya  melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang  lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat  dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-641"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang  mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu,  pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai  hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik  kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyah &lt;em&gt;–rahimahullah&lt;/em&gt;- mengatakan, “Kaum  muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja  adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa  membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman  keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan  Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (&lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;, hal. 7)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm &lt;em&gt;–rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada  dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang  mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (&lt;em&gt;Al Kaba’ir&lt;/em&gt;, hal. 25)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adz Dzahabi –&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- juga mengatakan, “Orang yang  mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar.  Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan  -yaitu satu shalat  saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena  meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena  itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa  besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat  termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang  berbuat dosa).” (&lt;em&gt;Al Kaba’ir&lt;/em&gt;, hal. 26-27)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apakah orang yang meninggalkan shalat, kafir alias bukan muslim?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa  meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa  berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini.  Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan  shalat masih muslim ataukah telah kafir?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Asy Syaukani -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- mengatakan bahwa tidak ada beda  pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang  meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila  meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu  itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-,  maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat &lt;em&gt;Nailul Author&lt;/em&gt;, 1/369).&lt;br /&gt;Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini  shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal  ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat  harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat  ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi,  Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah  bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama  Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i  (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob  (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman  bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat  dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat  Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat  karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia  harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat  Hanafiyyah. (&lt;em&gt;Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah&lt;/em&gt;, 22/186-187)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para  ulama termasuk pula  ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat  menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا  الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ  وَعَمِلَ صَالِحًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang  menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka  kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan  beramal saleh.”&lt;/em&gt; (QS. Maryam: 59-60)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Mas’ud &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; mengatakan bahwa ‘ghoyya’  dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat  menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (&lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;, hal. 31)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di  Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti  syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah  orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka  paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini  (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat  orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.”&lt;/em&gt; Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.”&lt;/em&gt;  (QS. At Taubah [9]: 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan  persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak  dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang  meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara  sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.”&lt;/em&gt; (QS. Al Hujurat [49]: 10)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim no. 257)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Tsauban &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; -bekas budak Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, beliau mendengar Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan  adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan  kesyirikan.”&lt;/em&gt; (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat &lt;em&gt;Shohih At Targib wa At Tarhib&lt;/em&gt; no. 566).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi&lt;/em&gt;).  Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah  seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa  roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa  ambruk dengan hilangnya shalat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umar mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari jalan yang lain, Umar berkata,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”  (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di &lt;em&gt;Ath Thobaqot&lt;/em&gt;, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab &lt;em&gt;Sunan&lt;/em&gt;-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Irwa’ul Gholil&lt;/em&gt;  no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang  sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya.  Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan &lt;a title="Dosa meninggalkan shalat" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina.html"&gt;shalat&lt;/a&gt; adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab &lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan  shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang  tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dulu para shahabat Muhammad &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan  menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At  Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim  mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di  dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat &lt;em&gt;Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab&lt;/em&gt;, hal. 52)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits  dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka  menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah  kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat  para ulama yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan  mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir,  padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah  dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat  memberi taufik).” (&lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;, hal. 56)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Kasus Pertama]&lt;/strong&gt; Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, &lt;em&gt;“Sholat oleh, ora sholat oleh.”&lt;/em&gt;  [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa].  Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat,  orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para  ulama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Kasus Kedua]&lt;/strong&gt; Kasus kali ini adalah meninggalkan  shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya.   Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang  semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah  pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan  tabi’in.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Kasus Ketiga]&lt;/strong&gt; Kasus ini yang sering dilakukan kaum  muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat  dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang  nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah  yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga  dia kembali ke jalan yang benar. &lt;em&gt;Wal ‘ibroh bilkhotimah&lt;/em&gt; [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba  melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya  keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah  dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak  sekaligus. …Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di  banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka  tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang  meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan  nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti  pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku  bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang  kadang shalat dan kadang tidak.” (&lt;em&gt;Majmu’ Al Fatawa&lt;/em&gt;, 7/617)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Kasus Keempat]&lt;/strong&gt; Kasus ini adalah bagi orang yang  meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat  membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah  sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan  disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor  penghalang untuk mendapatkan hukuman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Kasus Kelima]&lt;/strong&gt; Kasus ini adalah untuk orang yang  mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam  melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang  semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat  tercela sebagaimana Allah berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”&lt;/em&gt; (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat &lt;em&gt;Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani&lt;/em&gt;, 189-190)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang  selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang  sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih  disia-siakan lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-  mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian  adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga  agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya  akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang  yang meninggalkan shalat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ahmad –&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- juga mengatakan perkataan yang  serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah  meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan  penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan  semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat  lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah  engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam  Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam  hatimu.” (Lihat &lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;, hal. 12)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan)  bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan  melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq  (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya  dengan anggota badan).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq).  Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa  melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq)  saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi  yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini   hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka  semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa  ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan  dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat &lt;em&gt;Ash Sholah&lt;/em&gt;, 35-36)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga  kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai  bahaya meninggalkan shalat lima waktu. &lt;em&gt;Alhamdulillahilladzi bi  ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa  ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul, 22 Jumadil Ula 1430 H&lt;br /&gt;Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel &lt;a title="Dosa meninggalkan shalat" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-29862881163689748?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/29862881163689748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=29862881163689748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/29862881163689748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/29862881163689748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu.html' title='Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar Dibandingkan Dosa Berzina'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-2515159389404650447</id><published>2010-08-28T16:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T16:32:57.294-07:00</updated><title type='text'>Bolehkah Hadits Dhaif dijadikan sandaran hukum?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Kaum muslimin yang  semoga dirahmati Allah. Saat ini telah tersebar  berbagai macam perkara  baru dalam agama ini (baca: bid’ah). Seperti  contohnya adalah acara  tahlilan/yasinan yang tidak pernah dicontohkan  oleh Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah pula dilakukan  oleh para sahabatnya.  Dan kebanyakan bid’ah saat ini terjadi  dikarenakan tersebarnya hadits  dho’if/lemah di tengah-tengah umat.&lt;span id="more-6185"&gt;&lt;/span&gt;  Contoh dari hadits dho’if tersebut  adalah tentang keutamaan surat  yasin sehingga orang-orang membolehkan  adanya yasinan. Hadits tersebut  adalah,”Bacakanlah surat yasin untuk  orang mati di antara kalian”.  (Hadits ini dho’if/lemah diriwayatkan oleh  Abu Daud, Ibnu Majah, dan  Nasa’i. Imam Nawawi mengatakan bahwa dalam  hadits ini terdapat 2 perawi  majhul/tidak dikenal).   Selain itu juga,  hadits dho’if digunakan oleh  sebagian orang untuk menjelaskan fadh’ail  a’mal yaitu mendorong umat  untuk melakukan kebaikan dan menakut-nakuti  mereka agar tidak melakukan  kejelekaan. Hadits dho’if (bahkan palsu) ini  semakin tersebar –di  zaman yang penuh kebodohan mengenai derajat hadits  saat ini- baik  melalui tulisan atau pun melalui lisan para da’i. Namun  menjadi suatu  pertanyaan penting, apakah hadits dho’if (atau bahkan  palsu) boleh  dijadikan sandaran hukum?! Simaklah pembahasan berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Larangan  Berdusta Atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum muslimin  yang semoga selalu ditunjuki oleh Allah menuju  kebenaran. Perlu  diketahui, bahwa berdusta atas nama Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa  sallam termasuk dosa besar karena beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengancam orang yang demikian dengan  neraka. Sebagaimana sabda beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا  فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Barangsiapa yang  berdusta atas namaku dengan sengaja, maka  hendaknya dia mengambil tempat  duduknya di neraka”. (HR. Bukhari &amp;amp;  Muslim). Dari hadits ini  terlihat jelas bahwasanya seseorang yang  menyandarkan sesuatu kepada  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tanpa mengetahui keshohihannya,  dia terancam masuk neraka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam juga bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ  بِكُلِّ مَا سَمِعَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia  menceritakan setiap  yang dia dengar.” (HR. Muslim). Imam Malik –semoga  Allah merahmati  beliau- mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seseorang  tidak akan  selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan  dia tidak  layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan, pen),  sedangkan dia  selalu menceritakan setiap yang didengarnya. (Dinukil dari  Muntahal  Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari  perkataan Imam Malik ini terlihat bahwasanya walaupun seseorang  tidak  dikatakan berdusta secara langsung namun dia dapat dikatakan  mendukung  kedustaan karena menukil banyak hadits lalu mendiamkannya,  padahal bisa  saja hadits yang disampaikan dho’if atau dusta. (Lihat  Muntahal Amani)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hukum  Memakai Hadits Dho’if&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah penjelasan larangan berdusta atas  Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yaitu seseorang tidak boleh  menyampaikan suatu hadits tanpa  tahu terlebih dahulu keshohihannya, maka  perlu kita ketahui pula hukum  menggunakan hadits dho’if dengan melihat  perkataan Imam Muslim –semoga  Allah merahmati beliau- berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam  Muslim –rahimahullah- berkata, “Ketahuilah –semoga Allah  memberikan  taufiq padamu- bahwasaya wajib atas setiap orang yang  mengerti pemilahan  antara riwayat yang shohih dari riwayat yang lemah  dan antara perowi  yang tsiqoh (terpercaya, pen) dari perowi yang  tertuduh (berdusta, pen);  agar tidak meriwayatkan dari riwayat-riwayat  tersebut melainkan yang  dia ketahui keshohihan periwatnya dan  terpercayanya para penukilnya, dan  hendaknya dia menjauhi  riwayat-riwayat yang berasal dari orang-orang  yang tertuduh dan para  ahli bid’ah (yang sengit permusuhannya terhadap  ahlus sunnah). Dalil  dari perkataan kami ini adalah firman Allah yang  artinya,”Hai  orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik  membawa  suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak  menimpakan  suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya  yang  menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat:  6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat yang kami sebutkan ini menunjukkan bahwa berita orang yang   fasik gugur dan tidak diterima dan persaksian orang yang tidak adil   adalah tertolak.” (Muqoddimah Shohih Muslim, dinukil dari Majalah Al   Furqon). Maka dapat disimpulkan bahwa hadits dho’if tidak boleh   dijadikan sandaran hukum karena periwayat hadits dho’if termasuk orang   yang fasik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bolehkah Hadits Dho’if Digunakan dalam Fadho’il  A’mal?!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada sebagian kaum muslimin yang sering membawakan hadits  dho’if  (bahkan sangat dho’if/lemah) tentang fadha’il a’amal (keutamaan   berbagai amal) dalam dakwah mereka. Mereka beralasan bahwa para ulama   telah sepakat bolehnya menggunakan hadits dho’if dalam fadha’il a’mal.   Padahal di pihak lain, banyak ulama yang menyatakan hadits dho’if tidak   boleh diamalkan secara mutlak meskipun di dalam masalah fadha’il a’mal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlu  kaum muslimin ketahui, bahwa maksud sebagian ulama yang  membolehkan  menggunakan hadits dho’if bukanlah yang dimaksudkan mereka  menggunakan  hadits dho’if serampangan begitu saja. Namun, maksud mereka  adalah  bahwasanya dibolehkan menggunakan hadits dho’if untuk  menjelaskan  fadha’il a’mal (keutamaan amalan) dalam amalan yang telah  disyari’atkan  dalam syari’at dengan dalil-dalil yang shohih seperti  dzikir, puasa, dan  sholat. Hal ini dimaksudkan agar jiwa manusia selalu  mengharapkan  pahala dari amalan-amalan tersebut atau menjadi takut  untuk melaksanakan  suatu kejelekan. Para ulama tidak menghendaki  penetapan hukum syar’i  dengan hadits-hadits yang dho’if/lemah yang  tidak memiliki landasan  pokok dari hadits yang shohih. Seperti  yasinan/tahlilan tidak memiliki  dalil dari hadits yang shohih sama  sekali yang menjadi landasan pokok  dalam penetapan hukum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama yang membolehkan beramal dengan  hadits dho’if di dalam  fadho’il a’mal juga memberikan persyaratan bagi  hadits yang boleh  diamalkan dalam hal tersebut. Syarat-syarat tersebut  adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Hendaknya hadits dho’if tersebut bukanlah hadits yang  sangat dho’if/lemah,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Hendaknya hadits dho’if tersebut masuk di  bawah hadits shohih (atau minimal hasan) yang sifatnya umum,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3)  Di dalam mengamalkannya tidak diyakini keshohihannya,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Hadits  ini tidak boleh dipopulerkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syarat-syarat di atas di dalam  prakteknya sulit sekali diterapkan  oleh kebanyakan kaum muslimin.  Kebanyakan dari mereka tidak bisa  memilah antara hadits dho’if dengan  hadits yang dho’if jiddan (lemah  sekali) dan antara hadits yang di  dalamnya memiliki landasan dari  hadits yang shohih dengan yang tidak.  (Lihat Majalah Al Furqon, thn.6,  ed.2 dan Ilmu Ushul Bida’)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengenai  hadits dho’if, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin  mengatakan,  “Sedangkan hadits dho’if diperselisihkan oleh para ulama   -rahimahumullah-. Ada yang membolehkan untuk disebarluaskan dan dinukil,   namun mereka memberikan tiga syarat dalam masalah ini,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Syarat  pertama] Hadits tersebut tidaklah terlalu dho’if (tidak terlalu lemah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Syarat  kedua] Hadits tersebut didukung oleh dalil lain yang shahih yang  menjelaskan adanya pahala dan hukuman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Syarat ketiga] Tidak boleh  diyakini bahwa hadits tersebut dikatakan  oleh Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Hadits tersebut haruslah  disampaikan dengan lafazh tidak  jazim (yaitu tidak tegas). Hadits  tersebut hanya digunakan dalam masalah  at targhib untuk memotivasi dan  at tarhib untuk menakut-nakuti.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang  dimaksudkan tidak boleh menggunakan lafazh jazim adalah tidak  boleh  menggunakan kata “qola Rasulullah” (رَسُوْل اللهِ قَالَ), yaitu   Rasulullah bersabda. Namun kalau hadits dho’if tersebut ingin   disebarluaskan maka harus menggunakan lafazh “ruwiya ‘an rosulillah”   (ada yang meriwayatkan dari Rasulullah) atau lafazh “dzukiro ‘anhu” (ada   yang menyebutkan dari Rasulullah), atau “qiila”, atau semacam itu.  Jadi  intinya, tidaklah boleh menggunakan lafazh “Qola Rosulullah”   (Rasulullah bersabda) tatkala menyebutkan hadits dho’if.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika di  masyarakat tidak bisa membedakan antara perkataan dzukira  (ذُكِرَ),  qiila (قِيْلَ), ruwiya (رُوِيَ) dan qoola  (قَالَ), maka  hadits dho’if  tidak boleh disebarluaskan sama sekali. Karena ditakutkan  masyarakat   akan menyangka bahwa itu adalah hadits Nabi shallallahu  ‘alaihi wa  sallam. (Faedah Ilmu dari Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah,  Syaikh  Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 401-402, cetakan pertama,  1424  H). Lihat pula pembahasan kami di sini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Faedah Lainnya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari  sini menunjukkan bahwa hadits dho’if tidak boleh digunakan  untuk  menentukan suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih lain yang   mendukungnya. Karena di sini hanya disebutkan boleh hadits dho’if untuk   memotivasi beramal atau menakut-nakuti, bukan untuk menentukan   dianjurkannya suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih yang mendukung   hal ini. Perhatikanlah! Misalnya ada hadits dho’if mengenai amalan  pada  malam nishfu sya’ban. Kalau landasannya dari hadits dho’if tanpa   pendukung dari hadits shahih, maka tidak boleh digunakan sama sekali   sebagai landasan untuk beramal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pembahasan ringkas kami.  Semoga bermanfaat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya Allah yang beri taufik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis:  Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/" target="_blank"&gt;http://rumaysho.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-2515159389404650447?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/2515159389404650447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=2515159389404650447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/2515159389404650447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/2515159389404650447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/bolehkah-hadits-dhaif-dijadikan.html' title='Bolehkah Hadits Dhaif dijadikan sandaran hukum?'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-335557945745265052</id><published>2010-08-28T16:03:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T16:22:04.187-07:00</updated><title type='text'>Jadilah Perintis Sunnah Hasanah Bukan Bid’ah Hasanah!</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata,&lt;/p&gt; &lt;p style="padding-left: 30px; text-align: center;"&gt;كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ  اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ  فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ  مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ  مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ  فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ  الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ  اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ  اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا  اللَّهَ&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ  دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى  قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ  بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ  ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ  وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً  حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ  غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي  الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ  عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ  شَيْءٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami bersama Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; di pagi  hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada  berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian  luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah &lt;em&gt;Mudhar&lt;/em&gt; atau seluruhnya dari &lt;em&gt;Mudhar&lt;/em&gt;, lalu wajah Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar  dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat,  kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca  ayat,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ  الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا  وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي  تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah  menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan  isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki  dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan  (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan  (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga  dan mengawasi kamu”&lt;/em&gt;. (QS. An Nisa: 1)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan membaca ayat di surat Al Hasyr,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا  اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ  اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan  hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk  hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah  Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;/em&gt;. (QS. Al Hasyr:18) Telah  bershodaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’  kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak  shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan  tidak mampu’. Jarir berkata: ‘Kemudian berturut-turut orang memberi  sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku  melihat wajah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersinar seperti emas, lalu Rasulullah bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik,  maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya  setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang  mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa  orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka&lt;/em&gt;”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Takhrij Hadits&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini dikeluarkan oleh : Imam Muslim dalam &lt;em&gt;Shahih Muslim&lt;/em&gt; (7/103-104, dengan &lt;em&gt;Syarah An Nawawi&lt;/em&gt;) dan (16/225-226), Ahmad dalam &lt;em&gt;Al Musnad &lt;/em&gt;(4/357, 359, 361, 362), An Nasaa’i dalam &lt;em&gt;Al Mujtaba’&lt;/em&gt; (5/75-76-77), Al Tirmidzi dalam &lt;em&gt;Al Jaami’&lt;/em&gt; (5/42) no. 2675 dengan lafadz :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ……… وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan Ibnu Majah dalam &lt;em&gt;As Sunan &lt;/em&gt;(1/74) no 203.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Telaah Makna Hadits&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan : (مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ) &lt;em&gt;An Nimar &lt;/em&gt;dengan di-&lt;em&gt;kasrah&lt;/em&gt;-kan huruf &lt;em&gt;Nun &lt;/em&gt;adalah bentuk plural dari &lt;em&gt;Namirah &lt;/em&gt;dengan di-&lt;em&gt;fathah&lt;/em&gt;-kan. Ia bermakna baju dari kulit domba yang sobek. Sedangkan الْعَبَاء (&lt;em&gt;Al Abaa’&lt;/em&gt;) dengan di-&lt;em&gt;mad&lt;/em&gt;-kan dan di-&lt;em&gt;fathah&lt;/em&gt;-kan huruf  &lt;em&gt;‘ain-&lt;/em&gt;nya   عَبَاءة – عَبَاية . Sedangkan makna مُجْتَابِي النِّمَارِ  artinya sobek dan belas bagian tengahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan: فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bermakna berubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan :  فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ berisi anjuran mengumpulkan orang  banyak untuk perkara penting dan menasehati serta memotivasi mereka  untuk mencapai kemaslahatan mereka dan memperingati mereka dari perkara  jelek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan beliau : يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي  خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ , sebab dibacanya ayat ini karena ia  lebih pas dalam menganujurkan mereka bershodaqah dan karena berisi  penegasan hak mereka sebagai saudara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan: رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ  , &lt;em&gt;Kaumain &lt;/em&gt;dapat dibaca dengan &lt;em&gt;fathah &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;dhammah &lt;/em&gt;huruf &lt;em&gt;kaf&lt;/em&gt;-nya. Bermakna tempat yang tinggi seperti bukit kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan : حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ bermakna bersinar  karena senang dan bahagia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan: مُذْهَبَةٌ para ulama membacanya dengan dua sisi,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama: &lt;/strong&gt;yang sudah masyhur dan dirojihkan Al Qaadhi dan Jumhur adalah مُذْهَبَةٌ dengan huruf &lt;em&gt;dzal&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;fathah &lt;/em&gt;huruf &lt;em&gt;ha’&lt;/em&gt; dan setelahnya &lt;em&gt;ba’.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua: &lt;/strong&gt;مدْ هَنَةٌ dengan &lt;em&gt;dal &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;dhamah ha’&lt;/em&gt; dan setelahnya &lt;em&gt;nun&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Qadhi menjelaskan dalam &lt;em&gt;Masyaaqi Al Anwar (&lt;/em&gt;1/172) dua sisi bacaan ini dalam tafsirnya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama &lt;/strong&gt;: maknanya perak keemasan, ini cocok untuk keindahan wajah dan sinarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;: menyerupakannya dalam keindahan dan bersinarnya dengan &lt;em&gt;Al Mudzhabah &lt;/em&gt;dari kulit dan bentuk pluralnya adalah &lt;em&gt;madzaahib&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Al Mudzahab &lt;/em&gt;ini  adalah sesuatu yang digunakan bangsa Arab untuk mencelupkan kulit dan  menjadikannya bergaris-garis keemasan, tampak sebagiannya bersambung  dengan sebagian lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun sebab bahagianya Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  adalah senangnya beliau dengan bersegeranya kaum muslimin melaksanakan  ketaatan kepada Allah, mengeluarkan hartanya karena Allah, melaksanakan  perintah Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, menutupi  kebutuhan saudaranya yang membutuhkan, kasih sayang sesama kaum muslimin  dan kerjasama mereka dalam kebaikan dan taqwa. Seorang sudah sepatutnya  jika melihat hal seperti ini, untuk bahagia dan menampakan  kebahagiannya dan senangnya karena apa yang telah dijelaskan tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan : مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا , yang dimaksud sunnah dalam hadits ini adalah &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;contoh teladan atau perilaku&lt;/span&gt;, bukan bermakna sunnah secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam sabda beliau,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan sabdanya,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;منْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Konsekuensi hadits menunjukkan makna ini. Maksud saya, dengan konsekuensi hadits adalah sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً ,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;karena Rasulullah telah mensifati &lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;dalam hadits ini dengan kejelekan, dan tidak ada &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt; jelek dalam Islam. Maka yang dimaksud &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt; di sini adalah &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;makna bahasa (etimologi) bukan makna istilah&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kita sampaikan kepada orang yang menyelisihi kita,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Sungguh orang-orang itu telah memisah hal-hal yang sama &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;dan menyamakan hal-hal yang berbeda, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Mencampur-adukkan yang baik dengan yang buruk, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;yang berkualitas rendah dengan yang tinggi, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;dan meletakkan tanah dalam adonan roti.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kata &lt;em&gt;Sunnah &lt;/em&gt;ada dalam banyak &lt;em&gt;nash &lt;/em&gt;bermakna yang jalan contoh teladan atau perilaku, sebagaimana hal itu ada dalama sabda Rasulullah&lt;em&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌُ ظُلْمًا إِلَّا  كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ  لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidak ada satu jiwa pun terbunuh secara zhalim kecuali anak adam  pertama mendapatkan bagian dari darahnya, itu karena ia adalah orang  pertama yang mencontohkan pembunuhan”&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan juga sabdanya,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Sungguh kalian kelak akan mengekor perilaku orang-orang setelah kalian (yaitu orang musyrik)&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits-hadits ini, seandainya kita mendebat orang-orang yang  mencampuradukkan pemahaman sunnah yang telah diisyaratakan terdahulu,  maka kami sampaikan kepada mereka konsekuensi pernyataan mereka  tersebut. Yaitu sesungguhnya membunuh adalah &lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;dan meniru orang musyrik adalah &lt;em&gt;sunnah!&lt;/em&gt;  Tentu ini adalah pernyataan yang tidak akan disampaikan seorang yang  berakal. Sehingga kalau begitu tidak mungkin kita pahami sabda beliau  مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً  sebagai amalan baru yang  diada-adakan secara langsung, karena sunnah itu baik atau jeleknya tidak  diketahui kecuali dengan syariat. Hal itu karena menilai baik atau  buruk merupakan kekhususan syari’at semata tidak ada celah bagi akal  dalam hal ini. Inilah &lt;em&gt;madzhab ahlu sunnah wal jamaah&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menilai baik dan buruk dengan akal hanya merupakan pendapat  ahlul bid’ah, sehingga mengharuskan sunnah dalam hadits tersebut baik  menurut syariat atau buruk menurut syariat. Hal ini tidak pas kecuali  untuk seperti shadaqah yang disebutkan dan yang menyerupainya dari  sunnah-sunnah yang disyariatkan. Sedangkan sunnah &lt;em&gt;sayyi’ah &lt;/em&gt;(yang  buruk) tetap difahami untuk kemaksiatan yang ditetapkan syari’at  sebagai maksiat, seperti membunuh yang dijelaskan dalam hadits Ibnu Adam  ketika Rasulullah bersabda: لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ ,  dan kepada kebidahan, karena sudah ada celaan dan larangannya dalam  syari’at.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam &lt;em&gt;Fathul Baari &lt;/em&gt;(13/302):  “Al Muhallab berkata: Bab ini menjelaskan larangan dan peringatan dari  kesesatan dan menjauhi kebidahan dan perkara-perkara baru dalam agama  serta larangan menyelisihi jalan kaum mukminin.”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sisi peringatannya (&lt;em&gt;wajhu tahdzir&lt;/em&gt;) adalah orang yang berbuat  kebidahan terkadang meremehkannya karena kecilnya di awal dan tidak  merasakan timbulnya kerusakan akibat amalan tersebut, yaitu mendapatkan  dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, walaupuan seandainya ia tidak  mengamalkannya namun karena ia adalah orang yang merintisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam An Nawawi berkata dalam &lt;em&gt;Shahih Muslim &lt;/em&gt;(7/104), “Dalam  hadits ini terdzpat anjuran memulai kebaikan (menjadi perintis kebaikan)  dan mencontohkan contoh baik serta ada peringatan dari merintis  kebatilan dan perkara jelek. Sebab ucapan beliau dalam hadits ini adalah  pernyataan beliau sebelumnya:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini merupakan keutamaan yang agung bagi perintis kebaikan dan orang yang membuka pintu kebaikan tersebut”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Salah Paham Terhadap Hadits&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini dipahami salah ketika banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam pembagian bid’ah menjadi bidah &lt;em&gt;hasanah&lt;/em&gt;(baik)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan bidaha &lt;em&gt;sayyi’ah&lt;/em&gt; (tercela). Sebagian ulama pun ikut-ikutan dalam hal ini. Akan jelas bagimu kesalahan cara berdalil ini sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak dari orang yang berdalil dengan hadits ini dalam pembagian  bidah yang menyampaikan hadits sepotong-spotong dengan menampakkan  kepadamu sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan  legalisasi dalam pembagian bidah tersebut, lalu mengklaim adanya bidah &lt;em&gt;hasanah&lt;/em&gt;, ketika ia tidak menyebutkan obyek yang menyebabkan nabi menyatakan :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami telah menjelaskan di atas maksud dari &lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;disini adalah &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt; secara bahasa bukan secara syar’i&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sungguh saya menuntut orang yang menentang kami dalam pendapat ini  untuk menjawab pertanyaan: “Apakah ada dalam sunnah Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  sunnah yang jelek?”. Walaupun beliau sendiri menyatakan dalam hadits  ini: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّة سَيِّئَةً . Jika kalian  menjawab: “Ya, ada”, maka tidak perlu berdebat, karena dengan pernyataan  jelek seorang dapat keluar dari agama tanpa disadari, karena hal ini  sudah menjadi kepastian yang absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu  adalah agama. Jika menjawab “Tidak” maka kita sampaikan kepadanya hadits  ini yang ada padanya sifat sunnah dengan jelek agar mengakui bahwa  lafadz sunnah disini adalah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sampai-sampai hadits ini walaupun seandainya tidak ada pensifatan  sunnah dengan jelek sekalipun, sudah cukup dengan lafadz yang  menunjukkan pensifatan baik, yaitu مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً  حَسَنَةً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena hal itu adalah pensifatan yang salah dan tidak layak sama sekali, maknanya disana tentu ada &lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;yang tidak baik dari &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt;-&lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Ini dalil yang kuat menunjukkan bahwa lafadz tersebut secara bahasa, karena sudah dimaklumi &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt;  itu adalah agama. Jika anda katakan, “Ini sunnah yang baik, maka anda  sama saja dengan orang yang membagi sunnah menjadi dua, dan itu sesat,  pada apa yang kamu ingin bersihkan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis (Usamah Al Qashash) berkata, “Sungguh salah paham terhadap  hadits ini, membawa akibat buruk dan kerusakan. Kami telah mendengar  banyak orang yang melakukan perkara bidah yang tidak ada dasarnya dalam  syariat, ketika dingkari berdalil dengan hadits ini dan menyatakan: “Ini  perkara baik dan tidak apa-apa”, padahal nabi menyatakan: مَنْ سَنَّ  فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً  .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sampaikan kepada mereka ini: Sesungguhnya sahabat yang memulai  yang melakukan amalan shadaqah tidak melakukan sesuatu yang baru dalam  syari’at. Shadaqah disyaria’tkan dan dianjurkan oleh Rabb alam semesta  dalam Al Qur’an dan juga ada dalam sunnah yang tidak perlu lagi berdalil  untuknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam khutbahnya  tersebut menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah, namun ketika  mereka semua lambat dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;, maka bangkit seorang Anshar dari mereka dan menyerahkan kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; satu &lt;em&gt;shurrah &lt;/em&gt;shadaqah,  dan dari sini berturut-turut orang menyerahkan shadaqahnya, sehingga  perbuatan Anshar ini terpuji. Ia tidak berbuat bidah dalam shadaqah,  karena shadaqah disyari’atkan. Maka dari mana mereka dapat menyatakan:  “Di sana ada bidah &lt;em&gt;hasanah&lt;/em&gt; bermakna istilah syar’i?”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian seandainya makna hadits seperti yang telah mereka pahami ini, maka &lt;em&gt;sunnah &lt;/em&gt;dalam  hal ini kontradiktif, karena Rasulullah menganggap seluruh bid’ah  adalah sesat. Oleh karenanya pemahaman mereka tersebut jelas tidak  benar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Barkali berkata dalam &lt;em&gt;Al Thariqah Al Muhammadiyah &lt;/em&gt;(1/128, dengan syarah Al Khaadimi), “Seandainya anda meneliti semua yang disampaikan padanya &lt;em&gt;&lt;a href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html"&gt;bid’ah hasanah&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; dari jenis ibadah, maka tentu kamu mendapatinya diizinkan oleh syari’at baik secara isyarat atau dalil”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam komentarnya terhadap kitab &lt;em&gt;Al Baa’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal Hawadits &lt;/em&gt;hlm 87,“Dengan demikian keluar dari keumuman sabda Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:  setiap bid’ah sesat, karena bidah dalam makna syar’i adalah tambahan  atau pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at baik perkataan dan  perbuatan, jelas-jelas atau isyarat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at adalah bidah  yang sesat, walaupun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik  keutamaan atau yang terkenal sebagai &lt;em&gt;Syaikh&lt;/em&gt;!! Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah bukanlah hujjah selama tidak sesuai dengan syari’at.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sampaikan kepada orang yang menganggap baik banyak kebidahan dan  menjadikannya sebagai ajaran agama secara dusta dan bohong: sabda Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً   tidak bermakna orang yang mencontohkan dalam agama yaitu dalam hukum dan &lt;em&gt;furu’-&lt;/em&gt;nya serta &lt;em&gt;ushul&lt;/em&gt;-nya,  bukan! Ini merupakan kebodohan, namun maksudnya adalah orang yang  mencontohkan dalam zaman dan naungan Islam yaitu pada zaman dan  keberadaannya. Hal itu karena agama datang dan memperingatkan dari  kerusakan dan keburukan serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan,  sehingga dalam naungan agama yang lurus menjadi sesuatu yang agung  perbuatan mencontohkan padanya satu kejelekan. Tidak ada perbedan  anatara kejelekan yang baru atau kejelekan yang sudah ada dahulu sebelum  islam. (Sampai di sini nukilan dari &lt;em&gt;Al Israaq&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping itu, seandainya sahabat dari Anshar tersebut melakukan perbuatan lain selain shadaqah dan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menyetujuinya maka perbuatan atau perkataan sahabat ini adalah &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt; setelah persetujuan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Sunnah ini tidak ditetapkan kesunahannya dari sekedar perkataan atau perbuatan saja namun hanya karena persetujuan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, sebagaimana terjadi pada sahabat yang menyatakan setelah I’tidal dari ruku’ :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika selesai sholat, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; berkata: “&lt;em&gt;Siapakah yang mengucapkan hal itu?&lt;/em&gt;” Maka ia menjawab: “Saya wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya&lt;/em&gt;”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini persetujuan dan anjuran dari beliau, sehingga perbuatannya adalah  sunnah dari sisi ini dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah  membuat &lt;em&gt;sunnah&lt;/em&gt; (contoh) perkataaannya ini ketika &lt;em&gt;i’tidal &lt;/em&gt;setelah ruku’ dan ia &lt;em&gt;sunnah hasanah &lt;/em&gt;yang  diambil dari persetujuan Nabi. Persetujuan ini terputus dengan kematian  beliau, kecuali yang telah beliau arahkan, maka ia tidak keluar dari  makna &lt;em&gt;iqrar&lt;/em&gt; (persetujuan) beliau.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian orang yang mencoba mencari &lt;em&gt;nash &lt;/em&gt;lain untuk  melegalkan pendapatnya tentang pembagian ini, sehingga sebagiannya  menyandarkan kepada pernyataan Umar dalam shalat tarawih: ‘&lt;em&gt;Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini&lt;/em&gt;’&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam &lt;em&gt;Iqtidha Shirati Al Mustaqim &lt;/em&gt;hlm 270, “Sebagian orang berpendapat kebidahan terbagi menjadi dua bagian; &lt;em&gt;hasanah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;qabihaah&lt;/em&gt; (buruk) dengan dalil pernyataan Umar dalam shalat tarawih: “&lt;em&gt;Sebaik-baik bidah adalah ini&lt;/em&gt;” dan dengan dalil dengan beberapa perkataan dan perbuatan yang terjadi setelah Rasulullah dan tidak dilarang; atau dia &lt;em&gt;hasanah&lt;/em&gt; karena dalil-dalil yang menunjukkan hal itu dari &lt;em&gt;ijma’&lt;/em&gt; atau qiyas. Terkadang orang yang tidak faham &lt;em&gt;ushul &lt;/em&gt;ilmu  memasukkan dalam hal ini kebiasaan banyak orang dalam berbagai ibadah  dan sejenisnya, lalu menjadikan hal ini sebagai dalil yang menguatkan  orang yang menganggap baik sebagian kebidahan. Ada kalanya menjadikan  kebiasaannya dan kebiasaan orang yang dikenalnya sebagai &lt;em&gt;ijma’&lt;/em&gt;  walaupun tidak tahu pendapat seluruh kaum muslimin dalam hal tersebut.  Atau terkadang enggan meninggalkan kebiasaannya seperti kondisi orang  yang Allah nyatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang  diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk  kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya&lt;/em&gt;“. (QS. Al Ma’idah: 104)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alangkah banyak orang yang dikatakan memiliki ilmu atau banyak   ibadah berhujah dengan hujjah-hujjah yang keluar dari pokok ilmu yang  diakui dalam agama ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga Allah memberi taufik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: &lt;a href="http://ustadzkholid.com/"&gt;Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-335557945745265052?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/335557945745265052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=335557945745265052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/335557945745265052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/335557945745265052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan.html' title='Jadilah Perintis Sunnah Hasanah Bukan Bid’ah Hasanah!'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-9203686595620211482</id><published>2010-08-28T15:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T15:51:00.406-07:00</updated><title type='text'>Kisah : Pengemis Yahudi Buta</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pengemis Yahudi buta yang  selalu mangkal di Pasar. Tiap hari kerja sang pengemis mencaci maki  Rasulullah SAW dan mengatakan beliau adalah pembohong besar. Setiap  orang yang lewat beliau pasti berkata seperti itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tatkala nabi  Muhammad SAW wafat, sahabat beliau tercinta Abubakar ra bertanya kepada  istri Rasulullah SAW Aisyah ra yang tak lain adalah putri beliau  (Abubakar). Beliau bertanya " Ya Aisyah apakah aku telah mengerjakan  seluruh wasiat Nabi Muhammad SAW?". Maka Aisyahpun berkata " Ayahanda  telah melaksanakan seluruh wasiat Rasulullah SAW kecuali satu hal".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;" Apakah itu anakku? Aku sangat ingin melaksanakan semua wasiat beliau" kata Abubakar ra pada Putrinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aisyahpun  berkata " Setiap pagi Rasulullah SAW pergi ke pasar dan menyuapi  seorang pengemis yahudi buta". Maka Abubakar ra pun berkata "Insya Allah  saya akan melakukannya".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keesokan harinya Abubakar pun berangkat membawa makanan untuk menyuapi sang pengemis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tatkala dia menyuapi pengemis itu, pengemis tersebut pun berkata "kamu bukanlah orang yang biasa menyuapiku".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Abubakar berkata "akulah yang selalu menyuapimu"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"  Kalau yang biasa menyuapiku makan tidaklah membuat sulit tangan dan  mulutku ini. Dia selalu mengunyah makanan sebelum diberikan kepadaku dan  diberikan melalui mulutnya" kata pengemis buta tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Abubakar ra menangis dan berkata bahwa yang sering menyuapi pengemis tsb telah meninggal. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendengar  pengakuan Abubakar ra, sang pengemis Yahudi itu ikut menangis, dia  tidak menyangka bahwa orang yang selama ini dicaci maki tiap hari  berbuat baik padanya. Pengemis itupun menyatakan keislamannya di depan  Abubakar ra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hikmah yang dipetik disini adalah " walaupun orang  berbuat jahat kepada kita, tetaplah berusaha untuk berbuat baik kepada  orang tersebut".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wassalam﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-9203686595620211482?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/9203686595620211482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=9203686595620211482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/9203686595620211482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/9203686595620211482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/kisah-pengemis-yahudi-buta.html' title='Kisah : Pengemis Yahudi Buta'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-1130160440705141256</id><published>2010-08-28T15:40:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T15:42:44.401-07:00</updated><title type='text'>Wanita Itu Aurat</title><content type='html'>Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Sunan-nya (no. 1173) berkata,  “Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, ia berkata:  Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ashim, ia berkata: Telah  menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abul  Ahwash, dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ&lt;br /&gt;“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus memandanginya  (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga terjadilah  fitnah).” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih  At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3109, dan Al-Irwa’ no. 273. Dishahihkan pula  oleh Al-Imam Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam  Ash-Shahihul Musnad, 2/36)&lt;br /&gt;&lt;span id="more-1267"&gt;&lt;/span&gt;Yang namanya aurat berarti membuat malu bila  terlihat orang lain hingga perlu ditutupi dan dijaga dengan baik.  Karena wanita itu aurat, berarti mengundang malu bila sampai terlihat  lelaki yang bukan mahramnya. (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Ar-Radha’, bab  ke-18)&lt;br /&gt;Sehingga tetap tinggal di dalam rumah itu lebih baik bagi si wanita,  lebih menutupi dirinya dan lebih jauh dari fitnah (godaan/gangguan).  Bila ia keluar rumah, setan berambisi untuk menyesatkannya dan  menyesatkan orang-orang dengan sebab dirinya. Tidak ada yang selamat  dari fitnah ini kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa  Ta’ala. Yang disyariatkan bagi wanita muslimah yang beriman kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir adalah tinggal di dalam rumahnya  tanpa keluar kecuali bila ada kebutuhan, dengan mengenakan pakaian yang  menutupi seluruh tubuhnya dan tidak memakai perhiasan berikut  wangi-wangian, dalam rangka mengamalkan firman Allah Subhanahu wa  Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى&lt;br /&gt;“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah  bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.”  (Al-Ahzab: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah  dari balik hijab/ tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian  dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)&lt;br /&gt;Bila wanita tidak mengamalkan tuntunan syariat yang suci ini, ia akan  jatuh dalam jeratan dan perangkap para lelaki yang fasik dan pendosa.  Terlebih lagi bila keluarnya itu menuju ke pasar, mal, tempat rekreasi,  dan tempat-tempat keramaian yang di situ terjadi ikhtilath (campur baur  lelaki dan wanita). Alangkah banyaknya wanita seperti itu di zaman ini.  Demikian keterangan dari Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah  wAl-Ifta’, fatwa no. 19930, yang ketika itu masih diketuai oleh  Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu.&lt;br /&gt;Banyak orang tidak mengetahui hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  di atas. Kalaupun ada yang mengetahuinya, mereka berusaha menolaknya  karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka dengan mengatakan haditsnya  lemah, tidak terpakai, merendahkan kaum wanita, tidak sesuai dengan  perkembangan zaman, dan ucapan semisalnya.&lt;br /&gt;Demikianlah. Karena jauhnya zaman ini dengan masa kenabian, ditambah  lagi kebodohan yang tersebar luas di kalangan kaum muslimin dan hawa  nafsu yang mendominasi, banyak ajaran dan aturan agama Islam yang  dianggap aneh, asing, dan tidak lumrah. Termasuk keberadaan wanita  sebagai aurat, sehingga harus ditutupi dari pandangan lelaki ajnabi  (non-mahram), sulit diterima oleh kebanyakan orang bahkan oleh kaum  wanita sendiri. Yang dianggap biasa justru keberadaan wanita yang  berkeliaran di luar rumah, hilir mudik tanpa malu di depan lelaki  ajnabi, tanpa mengenakan busana yang syar’i, malah memamerkan kemolekan  wajahnya dan keindahan anggota tubuhnya, kebagusan dandanannya, serta  semerbak aroma tubuhnya. Wallahul musta’an (Hanya Allah Subhanahu wa  Ta’ala sajalah tempat meminta pertolongan).&lt;br /&gt;Ketahuilah, hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas telah  pasti keshahihannya. Bila suatu hadits dikatakan shahih dari ucapan Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti benar-benar Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam yang mengucapkannya. Beliau berucap tidaklah dari hawa  nafsu, tapi dari wahyu yang beliau terima sebagaimana firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى&lt;br /&gt;“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”  (An-Najm: 3-4)&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati  beliau, menerangkan tafsir ayat di atas, “Maksudnya Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan satu ucapan/ perkataan karena  dorongan hawa nafsu dan karena satu tujuan tertentu. Beliau hanyalah  mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau untuk disampaikan  kepada manusia secara sempurna, utuh, tanpa ada tambahan dan  pengurangan.” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 7/340)&lt;br /&gt;Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr  ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma memberitakan, “Aku biasa menulis segala  sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  karena aku ingin menghafalnya. Maka orang-orang Quraisy melarangku  dengan mengatakan, ‘Jangan engkau tulis segala sesuatu yang engkau  dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Rasulullah  itu manusia biasa, bisa berucap dalam keadaan marah maupun senang.’&lt;br /&gt;Aku pun berhenti menulis apa yang kudengar dari beliau, lalu kuceritakan  hal itu kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan jari beliau ke  mulut beliau seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اكْتُبْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ&lt;br /&gt;“Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang  keluar dari lisan ini kecuali al-haq/ kebenaran.” (HR. Abu Dawud no.  3646, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’  no. 1196 dan Ash-Shahihah no. 1532)&lt;br /&gt;Karena kepastian berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa wanita itu aurat, maka hendaklah wali para wanita, baik dari  kalangan ayah, paman, kakek, saudara laki-laki ataupun suami,  memerhatikan keberadaan wanita mereka serta memiliki kecemburuan  terhadap wanita mereka. Jangan biarkan mereka (para wanita) keluar rumah  tanpa ada kebutuhan, atau keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang  syar’i, yang menutup tubuh mereka sebagai aurat mereka.&lt;br /&gt;Bagi para wanita sendiri, hendaklah mereka bersegera berpegang dengan  tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa  sallam karena di dalamnya pasti ada kebaikan bagi mereka. &lt;p&gt;Apakah Suara Wanita Aurat?&lt;br /&gt;Terkait dengan keberadaan wanita sebagai aurat, mungkin tersisa  pertanyaan di benak. Bagaimana dengan suara wanita, apakah termasuk  aurat? Lalu bagaimana dengan keberadaan sahabiyah dahulu yang berbicara  dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dengan para sahabat?  Bagaimana pula keberadaan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha atau  wanita-wanita selainnya, yang mengajarkan ilmu dan menyampaikan hadits  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat dan  orang-orang yang datang setelah generasi sahabat? Bukankah ini  menunjukkan wanita boleh berbicara dan memperdengarkan suaranya kepada  lelaki ajnabi?&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam fatwa (no. 8567) pernah memberikan jawaban  tentang hal ini. Disebutkan bahwa suara wanita bukanlah aurat, tidak  haram bagi lelaki ajnabi untuk mendengarkannya terkecuali bila suara itu  diucapkan dengan mendayu-dayu, mendesah dan dilembut-lembutkan karena  yang seperti ini haram dilakukan si wanita di hadapan selain suaminya  dan haram bagi lelaki ajnabi mendengarkannya, berdasarkan firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ  اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي  قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا&lt;br /&gt;“Wahai istri-istri nabi, kalian tidak sama dengan wanita-wanita yang  lain, jika kalian bertakwa maka janganlah kalian melembutkan suara dalam  berbicara sehingga berkeinginlah orang yang ada penyakit dalam hatinya  dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)&lt;br /&gt;Dalam fatwa no. 5167, Al-Lajnah menyatakan wanita merupakan tempat  penunaian syahwat lelaki, maka kaum lelaki memiliki kecondongan kepada  wanita agar tertunai nafsu syahwatnya. Bila si wanita mendayu-dayu dalam  berbicara, tentunya fitnah akan semakin bertambah. Karena itulah Allah  Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin, para sahabat  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila mereka meminta kebutuhan  atau suatu barang kepada wanita yang bukan mahramnya, hendaknya meminta  dari balik hijab. Tidak langsung bertemu wajah dengan si wanita. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;“Apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada mereka maka mintalah  dari balik hijab/tabir, yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian  dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang para wanita melembutkan suara  mereka ketika berbicara dengan lelaki ajnabi agar jangan sampai lelaki  yang punya penyakit di hatinya berkeinginan jelek terhadap si wanita.&lt;br /&gt;Bila perintah ini dititahkan di zaman Rasul Shallallahu ‘alaihi wa  sallam, dalam keadaan kaum mukminin kuat imannya dan mulia jiwanya, lalu  bagaimana dengan zaman ini, di mana iman semakin melemah dan sedikit  orang yang berpegang dengan agama? Karenanya, wajib bagimu wahai wanita  untuk tidak bercampur baur dengan lelaki ajnabi dan tidak berbicara  dengan mereka kecuali bila ada kebutuhan yang sifatnya darurat dengan  tidak mendayu-dayukan dan melembutkan suara, berdasarkan dalil ayat yang  telah disebutkan.&lt;br /&gt;Dengan penjelasan ini tahulah engkau, wahai wanita, bahwa semata-mata  suara yang tidak disertai dengan kelembutan dalam berbicara bukanlah  aurat, karena dulunya para wanita/sahabiyah berbicara dengan Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau tentang perkara  agama mereka. Demikian pula mereka mengajak bicara para sahabat  sehubungan dengan kebutuhan mereka dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  sallam tidak mengingkari perbuatan mereka tersebut. (dari kitab Fatawa  Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’, 17/202-204)&lt;br /&gt;Sehubungan dengan suara wanita ini, sangatlah disayangkan adanya  sebagian orang yang bermudah-mudahan dengan berdalih suara wanita bukan  aurat. Sampai-sampai ada guru lelaki yang mengajarkan Al-Qur’an kepada  para wanita dengan men-tasmi’, yaitu mendengarkan bacaan Al-Qur’an para  wanita yang diajarinya, guna membetulkannya bila ada kesalahan.  Sementara kita semua maklum bagaimana suara wanita yang membaca  Al-Qur’an. Siapa yang bisa menjamin wanita tersebut tidak melagukan  suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Bila kondisinya  seperti ini, bagaimana dengan sang guru, apakah ia bisa menjamin hatinya  akan selamat dari fitnah?&lt;br /&gt;Ada pula guru lelaki yang berani mengajarkan percakapan bahasa Arab  (muhadatsah) kepada para wanita. Sementara, sebagai satu metode  pengajaran muhadatsah, sang guru mengajak bicara satu atau lebih murid  wanitanya untuk bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Mungkin sang guru  mengatakan, “Kaifa haluk?”&lt;br /&gt;Muridnya menjawab, “Alhamdulillah ana bi khair, wa anta…?” Dan seterusnya.&lt;br /&gt;Kita bisa membayangkan bagaimana nada suara murid wanita itu dalam percakapan tersebut! Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;Contoh di atas kita bawakan tidak lain sebagai nasihat dan peringatan  bagi diri pribadi dan saudara-saudara sekalian, agar kita semua tidak  menggampangkan permasalahan ini. Juga agar kita menjaga diri dari fitnah  dan memerhatikan keselamatan hati-hati kita. Karena, sebagaimana  perkataan hikmah dari ulama kita: Selamatnya hati tak dapat  ditandingi/dibandingkan dengan sesuatu pun.&lt;br /&gt;Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kita kepada apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin.&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.majalahsyariah.com/print.php?id_online=799"&gt;http://www.majalahsyariah.com/print.php?id_online=799&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-1130160440705141256?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/1130160440705141256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=1130160440705141256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1130160440705141256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1130160440705141256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/wanita-itu-aurat.html' title='Wanita Itu Aurat'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-7421671116090464748</id><published>2010-08-28T15:37:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T15:38:03.441-07:00</updated><title type='text'>14 Amalan yang Keliru di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div&gt;Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan di bulan  Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;di mana beberapa kesalahannya adalah:&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span id="more-335"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Mengkhususkan Ziarah  Kubur Menjelang Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu  utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan  “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati  kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah  jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan  meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau  nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran  Islam yang menuntunkan hal ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Padusan, Mandi Besar,  atau Keramasan Menyambut Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan  dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini  juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi  wa sallam&lt;/em&gt;.  Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”)  ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam  satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena  tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut  dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Menetapkan Awal  Ramadhan dengan Hisab&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ  وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya kami adalah umat yang buta huruf. Kami tidak  memakai kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula memakai hisab (dalam  penetapan bulan). Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan  bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Bazizah mengatakan,”Madzhab ini (yang menetapkan awal ramadhan  dengan hisab) adalah madzhab bathil dan syari’at ini telah melarang  mendalami ilmu nujum (hisab) karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan  (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (&lt;em&gt;qoth’i&lt;/em&gt;) atau persangkaan  kuat. Maka seandainya suatu perkara (misalnya penentuan awal ramadhan,  pen) hanya dikaitkan dengan ilmu hisab ini maka agama ini akan menjadi  sempit karena tidak ada yang menguasai ilmu hisab ini  kecuali sedikit  sekali.” (&lt;em&gt;Fathul Baari&lt;/em&gt;, 6/156)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Mendahului Ramadhan  dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ  بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ  فَلْيَصُمْهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau  dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan  puasa pada hari tersebut maka puasalah.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi dan  dishahihkan oleh Al Albani dalam &lt;em&gt;Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut  adalah hari yang meragukan. Dan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ  فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah  mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  pen).”&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al  Albani dalam &lt;em&gt;Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Melafazhkan Niat &lt;em&gt;“Nawaitu  Shouma Ghodin…”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya &lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan/14-amalan-yang-keliru-di-bulan-ramadhan.html"&gt;tidak  ada tuntunan&lt;/a&gt; sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena  tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, begitu pula dari para sahabat. Letak niat  sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ  وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat  adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini  tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Rowdhotuth  Tholibin&lt;/em&gt;, I/268, &lt;em&gt;Mawqi’ul Waroq&lt;/em&gt;-Maktabah Syamilah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. Membangunkan &lt;em&gt;“Sahur  … Sahur”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan  waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan  shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk  menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahu  kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan  memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika  membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan &lt;em&gt;“sahur … sahur ….”&lt;/em&gt;  baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk  pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama  sekali dari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga tidak  pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah  yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk  menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk  menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud &lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhu&lt;/em&gt; memiliki nasehat yang indah, &lt;em&gt;“Ikutilah  (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat  bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.”&lt;/em&gt; (Lihat  pembahasan at Tashiir di &lt;em&gt;Al Bida’ Al Hawliyah&lt;/em&gt;, hal. 334-336)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;7. Pensyariatan Waktu  Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ  السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ  الأَحْمَرُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran  sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi  kalian warna merah yang melintang.”&lt;/em&gt; (HR. Tirmidzi, Abu  Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam &lt;em&gt;Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud&lt;/em&gt;,  Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadits ini  menjadi dalil bahwa waktu &lt;a title="Bid'ah di bulan ramadhan" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/14-amalan-yang-keliru-di-bulan-ramadhan.html" target="_blank"&gt;imsak&lt;/a&gt;  (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq  –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum  adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan  sahur bersama Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, kemudian  beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berdiri untuk menunaikan  shalat. Kemudian Anas berkata, &lt;em&gt;“Berapa lama jarak antara iqomah dan  sahur kalian?”&lt;/em&gt; Kemudian Zaid berkata, &lt;em&gt;“Sekitar 50 ayat.”&lt;/em&gt;  (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan  iqomah? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat  dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an  (sekitar 10 atau 15 menit)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;8. Do’a Ketika Berbuka &lt;em&gt;“Allahumma  Laka Shumtu wa Bika Aamantu…”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam  ini. Di antaranya adalah dalam &lt;em&gt;Sunan Abu Daud&lt;/em&gt; no. 2357, Ibnus  Sunni dalam &lt;em&gt;‘Amalul Yaum wal Lailah&lt;/em&gt;  no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan amalan ini  adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang  mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi  yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta (Lihat  &lt;em&gt;Dho’if Abu Daud&lt;/em&gt; no. 2011 dan catatan kaki &lt;em&gt;Al Adzkar&lt;/em&gt; yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ  وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya  Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan  pahala telah ditetapkan insya Allah)”&lt;/em&gt; (HR. Abu Daud. Dikatakan  hasan oleh Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;9. Dzikir Jama’ah Dengan  Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; tatkala menjelaskan  mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah  membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap  orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain.  Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak  ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (&lt;em&gt;Majmu’  Fatawa Ibnu Baz&lt;/em&gt;, 11/189)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;10. &lt;em&gt;“Ash Sholaatul  Jaami’ah…”&lt;/em&gt; untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ulama-ulama Hambali berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk  memanggil jama’ah dengan ucapan &lt;em&gt;“Ash Sholaatul Jaami’ah…”&lt;/em&gt; Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah).  (Lihat &lt;em&gt;Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah&lt;/em&gt;, 2/9634, Asy  Syamilah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;11. Bubar Terlebih  Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى  يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis  untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”&lt;/em&gt; (HR. Ahmad dan Tirmidzi.  Syaikh Al Albani dalam &lt;em&gt;Al Irwa’&lt;/em&gt;  447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Jika imam melaksanakan shalat  tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan  bersama imam. Itulah yang lebih tepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;12. Perayaan Nuzulul  Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh  Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, juga tidak pernah  dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah  mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para  sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang  tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan  semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu  kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat &lt;em&gt;Tafsir  Al Qur’an Al ‘Azhim&lt;/em&gt;, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;13. Membayar Zakat  Fithri dengan Uang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata   uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu Nabi &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena  tidak boleh bagi beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; membayar zakat fithri dengan uang, tentu para  sahabat –&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/em&gt;- akan menukil berita tersebut.  Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal  para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya.  Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang,  tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka  yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).” (&lt;em&gt;Majmu’  Fatawa Ibnu Baz&lt;/em&gt;, 14/208-211)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;14. Tidak Mau  Mengembalikan Keputusan Penetapan Hari Raya kepada Pemerintah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa di Saudi Arabia mengatakan, “Jika  di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat (tentang penetapan 1  Syawal), maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di  negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat,  hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut  wajib mengikuti pendapatnya.” (&lt;em&gt;Fatawa&lt;/em&gt; no. 388)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian beberapa kesalahan atau kekeliruan di bulan Ramadhan yang  mesti kita tinggalkan dan mesti kita menasehati saudara kita yang lain  untuk meninggalkannya. Tentu saja nasehat ini dengan lemah lembut dan  penuh hikmah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, sifat &lt;em&gt;‘afaf &lt;/em&gt;(menjauhkan  diri  dari hal yang tidak diperbolehkan) dan memberikan kita kecukupan.  Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Wa shallallahu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi  wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-7421671116090464748?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/7421671116090464748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=7421671116090464748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/7421671116090464748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/7421671116090464748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/08/14-amalan-yang-keliru-di-bulan-ramadhan.html' title='14 Amalan yang Keliru di Bulan Ramadhan'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-4309726824582516044</id><published>2010-06-03T20:03:00.000-07:00</published><updated>2010-06-03T20:04:42.604-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Pelajaran Hari ini habis dari pengajian adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeitan itu ibarat pencuri, Hati kita ibarat Rumah dan Keimanan kita ibarat Barang yang ingin dicuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika rumah kita yang dipenuhi dengan barang-barang berharga dijaga dengan sangat ketat oleh sekuriti yang sangat banyak dan tak pernah tertidur, maka si Pencuri (Syeitan) tak dapat mencuri atau menggoda keimanan kita.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Jika rumah kita (Hati) yang dipenuhi beberapa barang berharga namun tidak dijaga ketat oleh sekuriti yang jumlahnya sedikit maka sang pencuri (Syeitan) akan mencari celah dan kelengahan sang penjaga untuk bisa mencuri (menggoda keimanan kita).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Namun jika rumah kita (Hati) tidak dipenuhi oleh barang berharga atau tidak ada keimanan, maka sang pencuri (Syeitan) tidak akan mencuri atau menggoda karena tak ada yang ingin digoda. Namun manusia type ini adalah teman dari Iblis dan digunakan untuk menggoda manusia lainnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:180%;" &gt;Manusia type manakah anda?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-4309726824582516044?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/4309726824582516044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=4309726824582516044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/4309726824582516044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/4309726824582516044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/06/pelajaran-hari-ini-habis-dari-pengajian.html' title=''/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-1689839942342084861</id><published>2010-05-27T01:19:00.000-07:00</published><updated>2010-05-27T19:33:15.593-07:00</updated><title type='text'>Kisahku....................</title><content type='html'>ini kisahku nyata bagiku karena dapat menyibak sanubariku hingga kepangkal hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa laluku emang kelam bahkan jika bisa dikatakan aku hidup di zaman Jahiliyah atau masa itu adalah catatan hitam hidupku yang harus aku bersihkan mulai sekarang. Aku bersyukur dapat pindah pulau yang awalnya adalah kesempatan berkarir untukku. Pulau baru yang memaksaku untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, suasana baru, dan kehidupan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai kerja setelah setahun lebih aku tak berpenghasilan. Alhamdulillah, Suasana baru dikantor aku sambut dengan canda tawa teman-teman kantor yang memperlihatkan suasana kerjanya mengasikkan. Pertama kali masuk kerja aku gunakan giat belajar dan tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 siang yang artinya waktu istirahat. Aku diajak makan ama teman-teman, habis itu ke teras depan untuk merokok. Tak lama kemudian, aku masuk ruangan kantor lagi dan terdengar dengan lantang suara AZAN diruangan sebelah. Oh... ternyata ruangan sebelah adalah Mushollah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku ikut Sholat karena malu ama temen-temen kantor lainnya. Kadang pula, jika Azan berkumandang, aku keluar ruangan dan menghilang ketempat lain untuk merokok dan menghindar dari sholat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan berjalan kehidupanku dipulau ini makin menyentuh dunia hitam atau makin kacau saja. Hingga suatu hari aku teringat seorang sosok yang pernah mengajarkanku tentang AGAMA walau itu hanya secuil. Aku mencari tau kabarnya lewat temanku dipulau seberang. Aku pun mulai berpikir tentangnya, kabar dia bagaimana ya? dia masih suka ngajarin kata-kata Islami nggak ya? Masih Cantikkah dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku telfon Temanku tuk cari tau kontak dia soalnya aku putus kontak dengan dia sudah 2 tahun. Sambil nunggu kabar dari temenku tentang dia, aku berpikir bagaimana kalau aku belajar dikit tentang ilmu agama supaya kalau aku udah dapat kontak dia, aku bisa menarik simpati dia dengan ilmu agamaku walau cuman dikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan berlalu aku belum juga dapat kabar dari temanku tentang dia, Tapi aku tidak berhenti belajar tentang AGAMA ISLAM karena makin lama kok Ajaran ini makin mengasikkan dan menyejukkan. Dua bulan berlalu aku makin getol belajar tentang Agama dan makin aku sadari kesalahanku dan juga Kebesaran-NYA. 3 Bulan berlalu, aku belum juga dapat kabar tentang dia tapi aku malah asyik dan senang dengan kegiatan baruku yaitu memperdalam pengetahuanku tentang ISLAM dan berusaha menjadi Manusia yang mampu membalas kasih sayang Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, temanku dapat kabar dari dia dan dapat menghubungkan kami lagi. Aku dan dia pun mulai lagi telfon-telfonan, sms-smsan. Kami pun banyak bercerita dan kebanyakan topik pembicaraan kami adalah tentang ISLAM dan Ajarannya. Seminggu terasa indah dan karena dia telah siap menerimaku menjadi pendampingnya jika suatu saat aku meminang dia. Walau kami tak punya status hubungan seperti Pacaran tapi kami aktif berkomunikasi dan saling mengingatkan. Kadang beberapa jam saja tak ada telfon atau sms dari dia, perasaan rindu mengguyur. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pikirku&lt;/span&gt; : Oh... Indahnya Saling belajar tentang Islam dan saling mengingatkan dengan Wanita seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari yang menurutku hari yang aneh, sebab kau tiba-tiba sms bertanya " kak, kok aku nggak bisa dewasa ya padahal umurku udah masuk angka 20 th" dan kujawab arti kedewasaan menurut Islam yaitu dia dikatakan Baligh dimana segala tindakannya akan dia pertanggungjawabkan. Kemudian aku balas bertanya "Kedewasaan seperti apa yang ukhti maksudkan?". Tak lama suara sms Handphoneku berbunyi dan kubaca sms kamu berbunyi " aku merasa nggak pantas dan memang tidak pantas untuk kakak". Langsung kubalas bahwa pantas tidak pantas itu urusan Tuhan, dan kutanyakan lagi, Pantas seperti apa maksud ukhti? kemudian kamu balas bahwa masih banyak wanita yang lebih Solehah dibanding aku yang cocok untuk kakak, kakak lebih berhak untuk yang lebih baik".  Aku tertegun dan sempat berpikir sejenak kemudian kubalas bahwa biarlah Tuhan yang pilihkan aku mana yang baik untuk agamaku, dunia dan akhiratku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kamu nggak pernah lagi sms apalagi nelfon. Aku sms tapi kamu tak balas. Hingga dua hari kemudian  disubuh hari, aku beranikan nelfon kamu sekalian ngajakin sholat subuh. di perbincangan lewat telfon itu, Kata-katamu tegas dan kamu ngomong seperlunya saja. Aku bingung, kenapa baru aja kita dekat tapi kamu sudah menjauh lagi. Seharian penuh aku terus kepikiran dengan sikapmu itu, rasa rindu makin membludak, tiap saat aku terus memperhatikan Handphone aku berharap kamu nelfon atau setidaknya sms namun  semuanya sia-sia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Malam&lt;/span&gt; harinya aku berpikir apakah ini cobaan Tuhan atau siasat Iblis, Akhirnya malam itu aku habiskan waktu dengan membaca Ayat Suci Al-Quran untuk menyejukkan hati dan kututup dengan Sholat Hajad dengan memohon padanya untuk aku bisa dibukakan jalan agar aku tak tersesat diruang aneh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh hari setelah Sholat subuh aku sempatkan membaca artikel di internet dan tak sengaja aku baca Beberapa Hadist yang membuka pikiranku bahwa perasaanku padanya selama ini adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah). dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik."&lt;/span&gt; (QS. Al-Ahzab : 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku coba konsultasikan kepada Ikhwan yang lebih mengert dan aku dapat pelajaran dari beliau yaitu &lt;span style="font-style: italic; font-family: times new roman;font-family:webdings;font-size:180%;"  &gt;Rasulullah bersabda, mata boleh berzina dgn melihat, lidah boleh berzina dengan berbicara, tangan boleh berzina dengan berpegangan. Kaki boleh berzina dengan berjalan ke arah tempat maksiat. Hati pula boleh berzina dgn merindui, mengingati dan membayangi si dia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";font-family:book antiqua,palatino;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:verdana,geneva;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hakikatnya, walaupun aku tak bertemu dia, walaupun aku hanya sms sama dia, tetap aku tak dapat lari dari zina Hati. Saya sempat terdiam, &lt;em&gt;ASTAGFIRULLAHALADZIM.... &lt;/em&gt;&lt;em&gt;ASTAGFIRULLAHALADZIM.... &lt;/em&gt;&lt;em&gt;ASTAGFIRULLAHALADZIM..... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya.... ALLAH Yang Maha Suci, Ampunilah Hambamu telah salah mengerti tentang perintah dan larangan-MU. Tiada tempat untuk kembali kecuali kepada-MU.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sadar akan semuanya dan saya yakin dia pun telah sadar lebih dulu dibanding aku, maka kuambil handphone aku dan kuhapus nama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kami telah sepakat tanpa sepatah kata pun untuk agama, dunia dan akhirat kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ya.... ALLAH, buatlah kami senantiasa Istiqomah dijalan-MU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-1689839942342084861?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/1689839942342084861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=1689839942342084861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1689839942342084861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1689839942342084861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/05/kisahku.html' title='Kisahku....................'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-5604858956596068001</id><published>2010-05-22T06:16:00.000-07:00</published><updated>2010-05-22T06:28:29.797-07:00</updated><title type='text'>RAHASIA IBLIS TERBONGKAR</title><content type='html'>&lt;span style="color:SeaGreen;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Riwayat Dari: Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang memaksamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:&lt;br /&gt;“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ORANG YANG DIBENCI IBLIS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa selanjutnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”&lt;br /&gt;“lalu siapa lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu siapa lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang selalu bersuci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa tanda kesabarannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Selanjutnya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang kaya yang bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa tanda kesyukurannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umar bin Khattab?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usman bin Affan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ali bin Abi Thalib?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;AMALAN YANG DAPAT MENYAKITI IBLIS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang umatku berpuasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ia berhaji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku seperti orang gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ia membaca al-Quran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ia bersedekah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa bisa begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suara kuda perang di jalan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taubat orang yang bertaubat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat membakar hatimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istighfar di waktu siang dan malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedekah yang diam – diam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat menusuk matamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat fajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dapat memukul kepalamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat berjamaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang paling mengganggumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Majelis para ulama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara makanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan tangan kiri dan jariku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di bawah kuku manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MANUSIA YANG MENJADI TEMAN IBLIS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemakan riba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sahabatmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pezina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa teman tidurmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemabuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa tamumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa utusanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tukang sihir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuatmu gembira?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersumpah dengan cerai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kekasihmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;IBLIS TIDAK BERDAYA DIHADAPAN ORANG YANG IKHLAS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis segera menimpali:&lt;br /&gt;“Tidak,tidak.. tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;IBLIS DIBANTU OLEH 70.000 ANAK-ANAKNYA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;CARA IBLIS MENGGODA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah mahluk pertama yang berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah dusta adalah kegemaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian palsu kegembiraanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.&lt;br /&gt;Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.&lt;br /&gt;Dan iapun semakin taat padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;10 HAL PERMINTAAN IBLIS KEPADA ALLAH S.W.T.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“10 macam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.&lt;br /&gt;Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu membaca ayat :&lt;br /&gt;“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 - 119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga membaca,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis lalu berkata:&lt;br /&gt;“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-5604858956596068001?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/5604858956596068001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=5604858956596068001' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/5604858956596068001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/5604858956596068001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/05/rahasia-iblis-terbongkar.html' title='RAHASIA IBLIS TERBONGKAR'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-978350017577151882</id><published>2010-05-20T01:07:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T01:40:59.681-07:00</updated><title type='text'>Nilai Eksistensi Sebuah Do'a</title><content type='html'>Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan menuju hidayah, maka Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka dari kalangannya sendiri yang mereka telah mengenal akhlaqnya, kejujurannya, serta amanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al-Jum'ah: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam adalah seperti halnya Rasul-Rasul lainnya, menyeru untuk memurnikan ibadah kepada Allah 'azza wajalla dan meninggalkan peribadahan selainNya. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Dan Kami tidak mengurus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Al- Anbiyaa: 25).&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut." (An-Nahl: 36).&lt;br /&gt;Inilah pembuka dakwah para Rasul, karenanya ia adalah pondasi yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan lain, jika pondasinya rusak maka tak ada guna cabang-cabang lainnya, tidak ada manfaatnya sholat, puasa, haji, dan shodaqoh, serta seluruh ibadah-ibadah lainnya, Apabila pondasi telah cacat dan tauhid sudah berantakan tidak ada faidahnya amalan-amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." (Al Kahfi: 110).&lt;br /&gt; Allah juga berfirman,&lt;br /&gt;"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al An'am: 88). "&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, jika kamu berbuat syirik niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az Zumar: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh seluruh penduduk bumi amat sangat membutuhkan akan risalah yang dibawa olehnya Shalallahu 'alaihi wassalam daripada kebutuhan mereka terhadap air hujan, sinar matahari, serta seabreg kebutuhan-kebutuhan lainnya, karena tidak ada kehidupan hati, kenikmatannya, kelezatannya, dan kebahagiaannya bahkan tak ada ketenangan hati dan tuma'ninahnya kecuali dengan mengenal Rabbnya, yang diibadahinya, dan Penciptanya dengan nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, sehingga menjadikanNya lebih dicintai daripada selainNya, menjadikan segala usaha-usahanya dalam hal-hal yang akan mendekatkan diri padaNya dan keridhoanNya.&lt;br /&gt;Para pembaca semoga dirohmati Allah, doa adalah salah satu dari bentuk ibadah di samping ibadah badaniyah - seperti sholat, maaliyah - seperti zakat, atau ibadah maaliyah badaniyah - seperti haji, sebab ibadah adalah satu kata yang memiliki cakupan luas setiap apa yang dicintai dan diridlai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan lahir maupun batin. Sepele memang nampaknya masalah doa ini, tetapi ironisnya banyak di antara kaum muslimin - kalau tidak keseluruhannya - berbeda-beda dalam hal menyikapinya, mengaplikasikannya, dan tata cara pelaksanaannya, wallahul musta'an.&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri kalau di sana masih banyak yang menganggap bahwa doa itu bukan termasuk ibadah, dengan kenyataan tak sedikit yang memohon di hadapan kuburan orang yang dianggap sholih, memohon di hadapan batu besar yang dikira memiliki keanehan, manggut-manggut di hadapan pohon besar yang tak dapat melihat dan mendengar. Tidak mustahil kalau di sana masih ada yang merasa tidak butuh kepada doa karena kesombongannya dan tak ada keimanannya. Satu perkara yang tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian kaum bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam hal doa dan cara berdoa. Wa ilallahil musytaka.&lt;br /&gt;Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, ketahuilah bahwa mayoritas orang-orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, pangkal kesyirikannya ialah berdoa kepada selain Allah. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda,&lt;br /&gt;"Doa itu adalah ibadah." (HR Ahmad 4/267, Tirmidzi 5/426, Al Hakim dalam Mustadrak 1/491 dan menshohihkannya, dan disepakati oleh Al Imam Adz Dzahabi, dari sahabat Nu'man bin Basyir RA). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mati sedang ia berdoa kepada tandingan-tandingan selain Allah, maka akan masuk neraka." (HR Al Bukhori no 4497 dari sahabat Abdullah ibnu Mas'ud). Hadits ini menerangkan bahwa doa adalah bagian dari ibadah-ibadah yang paling agung, termasuk ke dalam hak-hak Allah yang paling mulia, dimana jika seorang hamba memalingkannya kepada selain Allah dengan demikian ia berarti telah musyrik, telah menjadikan bagi Allah tandingan-tandinganNya dalam hal uluhiyahNya.&lt;br /&gt;Namun apabila seseorang meminta doa kepada orang lain yang sholih, kemudian masih hidup, dan dalam perkara-perkara yang dimampuinya, maka tidaklah termasuk kemusyrikan, hal ini dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; meminta doa kepada seorang yang sholih untuk kemaslahatan umum kaum muslimin, seperti ini dibolehkan, dengan dalil hadits Anas tentang seorang laki-laki yang meminta doa dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam agar diturunkan hujan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; meminta doa kepada orang lain untuk kemaslahatan dirinya, sebagian ulama membolehkan hal ini dan yang lainnya menyatakan tidak semestinya, karena dikhawatirkan termasuk dalam bab meminta-minta kepada orang lain dan dikhawatirkan pula yang meminta doa akan bersandar kepada doa orang lain sedang dia lupa mendoakan dirinya sendiri. (Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Majmu'ul Fatawa jilid ke-1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, Allah Subhanahu wa Ta?ala dengan jelas menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al Mu'min: 60).&lt;br /&gt; Adapun sisi pendalilah dari ayat ini yang menunjukkan bahwa doa itu adalah ibadah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Dalam ayat ini Allah telah memerintah dengan firmanNya, "Berdoalah kepadaKu." Sedangkan Allah tidak akan memerintah kecuali yang wajib atau mustahab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutnya sebagai ibadah, dengan firmanNya, "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu."&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Allah Subhanahu wa Ta?ala membalas hamba-hambaNya yang berdoa dengan pengkabulan atas doa-doanya, dengan firmanNya, "Berdoalah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu."&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; Berkata Ibnul Araby Al Maliki rohimahullah, "Segi penamaan doa dengan ibadah sangatlah jelas, karena terkandung di dalamnya pengakuan dari seorang hamba akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya, sedangkan segala kekuasaan dan kekuatan hanyalah milik Allah, yang demikian itulah ketundukan dan kepatuhan yang sempurna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, di dalam banyak ayat Allah Subhanahu wa Ta?ala mencegah dari berdoa kepada selainNya. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zholim." (Yunus: 106).&lt;br /&gt; Dan Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab." (Asy Syu'araa: 213).&lt;br /&gt; Pada ayat lain Allah menjelekkan perbuatan orang-orang musyrikin berdoa kepada selain Allah. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan sekarang ini adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya dan menurunkan untukmu rizki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya." (Al Mu'min: 12-14).&lt;br /&gt;Memurnikan ibadah kepadaNya adalah memurnikan doa kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menghukumi dengan kesesatan dan kerugian atas orang-orang yang berdoa kepada selainNya. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al Ahqaaf: 5-6).&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman,&lt;br /&gt;"... yang berbuat demikian itulah Allah Tuhanmu kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Faathir: 13-14).&lt;br /&gt;Seluruh nash-nash ini dan yang semisalnya di dalam Al Quranul Karim maupun sunnah yang suci sebagai penjelasan bagi orang-orang yang Allah bukakan penglihatannya dan terangkan hatinya serta lapangkan dadanya tentang betapa pentingnya doa dan begitu tinggi kedudukannya dalam aqidah al Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingginya kedudukan doa dalam aqidah al Islamiyah, maka Allah mengancam orang-orang yang tidak tunduk padaNya dengan doa.&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Al Mu'min: 60).&lt;br /&gt;Jadi sikap sombong dari berdoa kepada Allah dan menyelewengkan doa kepada selain Allah adalah bentuk kemaksiatan yang besar terhadapNya.&lt;br /&gt;dan sebagai bentuk pembangkangan serta pendustaan terhadap nabi-nabiNya dan Rasul-RasulNya dimana telah sepakat risalah dan dakwah mereka menyeru kepada wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah dan yang paling besarnya di antara ibadah itu adalah doa.&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya ibadah-ibadah lain memiliki cara dan etika, maka berdoapun demikian tak lepas dari itu, sebab kita mesti pahami bahwa agama itu adalah kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyariatkan olehNya dan oleh RasulNya Shalallahu ?alaihi wassalam, sebagai contoh misalnya suatu ketika Rasulullah berwudlu, kemudian setelah selesai darinya beliau mengatakan, "Ini adalah wudluku dan wudlu para nabi sebelumku, barangsiapa menambahi atau bahkan mengurangi maka ia telah berbuat jahat dan zholim."&lt;br /&gt;Contoh lainnya saat Rasulullah mengatakan, "Sholatlah kalian seperti kalian telah melihat aku sholat." Demikian pula dengan pernyataan beliau, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka akan tertolak." Dan begitu banyak contoh-contoh lainnya dalam hal ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala jelaskan etika berdoa itu dalam firmanNya,&lt;br /&gt;"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Al A'raaf: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada makhlukNya, menjaga, memelihara, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, sungguh benar apa yang dikatakan dalam sebuah syair:&lt;br /&gt;  Allah akan marah jika engkau tinggalkan meminta padaNya&lt;br /&gt;   Sedang Bani Adam jika dipinta akan marah.&lt;br /&gt;Sudah semestinya memang kita selaku hambaNya yang fakir untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah, segala urusan hanyalah milik Allah dan akan dikembalikan kepadaNya. Allah berfirman,&lt;br /&gt;"KepunyaanNyalah kerajaan langit-langit dan bumi. Dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (Al Hadid: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bishshowab wal ilmu indallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buletin Al-Wala' wal Bara' Edisi 13 Tahun 1/14 Maret 2003M/11 Muharram 1424H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-978350017577151882?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/978350017577151882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=978350017577151882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/978350017577151882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/978350017577151882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/05/nilai-eksistensi-sebuah-doa.html' title='Nilai Eksistensi Sebuah Do&apos;a'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8992559361891285836.post-1092060517146141755</id><published>2010-05-20T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T00:19:15.303-07:00</updated><title type='text'>TELAH KUPILIH JALANMU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_oATovva3syQ/S_Th5WWUxlI/AAAAAAAAAAM/kd_1AqXghF8/s1600/ampun1.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_oATovva3syQ/S_Th5WWUxlI/AAAAAAAAAAM/kd_1AqXghF8/s320/ampun1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473247822530004562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);font-family:courier new;" &gt;Telah kupilih jalanMu............&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Jalan yang mendekatkan aku padaMu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Jalan orang-orang yang beriman dan beramal soleh&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Dan aku yakin sebenar-benarnya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Cintaku padaMu takkan pernah dikecewakan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);font-family:courier new;" &gt; Namun Tuhan..........&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Ampuni aku,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Fitrah hati ini terlalu berat untuk kubuang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Terlalu pahit untuk ditelan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Tapi terus-terusan aku gagahkan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Demi menggapai cintaMu Yang Esa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Bantulah aku Tuhan..............&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Jika rinduku ini imaginasi syaitan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Dan kuminta ia dilenyapkan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Andai kasihku berlandaskan nafsu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Kumohon matikanlah rasa cinta yang belum tentu jadi milikku&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Tolonglah aku Tuhan.............&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Untuk mengisi bejana cintaku untukMu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Agar aku takkan pernah dahagakan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Cinta dari insan yang tak halal bagiku&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Teguhkan kasihku untukMu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Agar aku tak kecundang dijajah cinta yang dusta&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Yang menjadi hijab di antara kita&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Tetapkan langkahku di jalan ini&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagahkan aku Tuhan..........&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menenggelamkan kapal cinta manusia&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Walau ia segagah bahtera 'Titanic'&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Tetapku pinta ia karam&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Jika belayar di lautan dosa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Dan kumohon Tuhan.............&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Damaikanlah ombak di hati&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Walaupun badai datang mengundang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Kasihku diikat di dasar Rabbi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Kerana ianya lumrah ujian..&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Dan akan kuterus tekadkan janji&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt; Kerana telah kupilih jalanMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.iluvislam.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8992559361891285836-1092060517146141755?l=akuadalahmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/feeds/1092060517146141755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8992559361891285836&amp;postID=1092060517146141755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1092060517146141755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8992559361891285836/posts/default/1092060517146141755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akuadalahmuslim.blogspot.com/2010/05/telah-kupilih-jalanmu.html' title='TELAH KUPILIH JALANMU'/><author><name>islam_agamaku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07569992794143761063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_oATovva3syQ/S_Th5WWUxlI/AAAAAAAAAAM/kd_1AqXghF8/s72-c/ampun1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
